Biblical Counseling Daripada Psikologi Sekular ataupun Integrasi ?

Kecukupan Alkitab VS Alkitab + Psikologi

Puji Tuhan kalau karena anugerah Tuhan saya boleh mensharingkan dan mensarikan prinsip kebenaran yang saya gumuli sejak lama. Saya berharap artikel ini boleh menjadi berkat. Di dalam artikel ini saya akan sharingkan mengenai kecukupan Alkitab untuk menyelesaikan masalah jiwa manusia. Artikel ini adalah artikel yang bersambung dan akan banyak membahas pergumulan mengenai keputusan mengapa memilih Biblical Counseling daripada psikologi sekular maupun psikologi Kristen atau yang biasa disebut Integrasi.

Bab I. Problematis psikologi sekular

Sebelum membahas mengenai Biblical Counseling maka kita akan membahas konteks jaman ini. Kita perlu mengerti konteks sebelum melakukan teologi praktis di dalam pastoral. Jaman sekarang ini boleh dibilang jaman masyarakat psikologi. Pengertian psikologi ada dimana-mana. Di toko buku Gramedia atau misalnya 101, kita akan menemukan banyak buku self-help, buku-buku psikologi. Di dalam toko buku Kristenpun banyak topik psikologi : menyembuhkan emosi, menyembuhkan luka batin, dll. Anak-anak sekolah SMA ada psikotes untuk penjurusan. Kemudian ketika mau masuk universitas harus tes psikologi juga. Mau masuk pekerjaan harus ada psikotes untuk mengetahui kemampuan dan karakter. Bahkan masuk ke sekolah teologipun ada psikotes. Ada tes IQ, EQ dll. Bahkan ada tes multiple intellegence. Ini jaman di mana psikologi sudah banyak masuk ke dalam banyak aspek di dunia kita sekarang.



Selain di bidang penelitian ada juga psikologi yang bergerak di bidang klinis dan terapi. Konsep terapi banyak dimana-mana. Terapi musik, Aroma terapi, Terapi skydiving dan berbagai macam terapi banyak di jaman sekarang. Boleh dibilang jaman sekarang adalah jaman dimana orang berpusat pada perasaan (feeling). Memang pergumulan emosi manusia di jaman yang makin menyesakkan ini membuat orang membutuhkan solusi. Solusi jalan keluar buat pergumulan hidup mereka.

Psikologi benar-benar sudah menjadi bagian hidup dari masyarat luas. Bila seseorang mengalami pergumulan emosi maka dia akan dibawa ke psikolog atau psikiater. Psikolog dan psikiater dipercaya adalah ahli mengenai jiwa manusia. Hamba Tuhan sudah mulai ditinggalkan dan kuno.

Ada satu cerita di dalam buku “Why Christian can’t trust Psychology” yaitu seorang pendeta mengabarkan di dalam Kristus ada jalan keluar bagi masalah manusia. Permasalahan jiwa manusia hanya di dalam Firman. Kemudian seorang wanita yang cantik merasa itu berkuasa. Dia sudah pergi berulang kali ke psikolog dan psikiater dan masalah hidupnya tidak selesai. Dan dia mau konseling dengan pendeta itu. Setelah membuat pertemuan maka wanita itu menceritakan pergumulan hidupnya yang berat. Dia pernah dilecehkan secara seksual oleh ayahnya bertahun-tahun. Dia pernah 5x diperkosa oleh orang lain. Kehidupan suami istri dia kacau. Dan pendeta itu kaget. Dan dia bilang. Sorry… Ini terlalu sulit…. Kamu harus menghubungi psikolog dan psikiater. Ini terlalu berat untuk diatasi. Dan perempuan itupun kecewa. Dia berkata bahwa dia sudah menjalani terapi-terapi dan tidak sembuh. Dia mengharapkan Firman Tuhan dapat menjawab masalahnya seperti kotbah itu. Tetapi ternyata pendeta itu kewalahan dan tidak bisa memberi jawaban atas permasalahan perempuan itu. Pendeta itu mengarahkan perempuan itu kepada psikologi. Inilah kondisi jaman sekarang.

Satu hal yang perlu kita ketahui bahwa ketika kita serahkan saudara seiman kita kepada psikolog dan psikiater maka kita sedang menyerahkan hak kesulungan kita sebagai gereja untuk memberikan jawaban Alkitabiah di dalam Kristus dan sedang menyerahkan saudara-saudari kita kepada imam-imam sekular untuk dicabik-cabik di sana. Mengapa ada pernyataan seperti ini ? Karena kita harus mengerti natur dari psikologi.

Apa itu psikologi ? Psikologi adalah ilmu mengenal tingkah laku manusia. Ilmu ini perlu kita renungkan baik-baik. Apakah psikologi ini suatu kebenaran scientific ? Apakah psikologi adalah kebenaran dari Tuhan Allah ? Apakah psikologi dapat dipercaya ? Apakah psikologi itu dimotivasi oleh kasih ? Apakah psikologi dapat menyembuhkan masa lalu ? Apakah label-label psikologi itu benar ?

Ada kepercayaan di dalam masyarakat bahwa psikologi adalah ilmu pengetahuan, dapat dipercaya, dapat menyembuhkan masa lalu, dll. Ini perlu kita kritisi juga.

1. Apakah psikologi sebuah ilmu pengetahuan ?
Ilmu pengetahuan adalah kebenaran dan tidak berubah. Masalahnya ada 250-an atau bahkan lebih jenis-jenis psikoterapi. Dan semua teori ini banyak berbeda. Pandangannyapun berbeda dan saling berkontradiksi. Teori Freud bertentangan dengan teori Jung. Freud melihat realitas secara material dan Jung secara spiritual. Dan pertanyaannya : apakah kebenaran berkontradiksi ? Seorang psikolog mengatakan bahwa psikologi tidak dapat membentuk sistem yang konsisten. Jadi klaim bahwa psikologi adalah ilmu pengetahuan perlu kita selidiki lagi.

Kalau saya jatuh dan patah tulang maka saya di-rontgen dan diperiksa oleh seorang dokter. Ada bukti objektif bahwa saya patah tulangnya dan perlu di-gips. Ini merupakan bukti objektif dimana kalau saya pergi ke dokter lain hasilnya juga akan sama. Ada data dan ada bukti data.

Tetapi kalau saya mengalami pergumulan emosi dan saya di diagnosa oleh psikiater apakah diagnosanya itu tepat ? Bisakah kita menarik analogi sakit fisik dengan sakit secara emosi ?

Ada kisah nyata di mana ada 8 orang berpura-pura menjadi pasien dan berobat ke psikiater. Kemudian mereka didiagnosa sakit jiwa dan diberi makan obat. Ketika mereka hidup normal maka kenormalan mereka dipandang bagian dari psychosis. Pertanyaannya apakah diagnosanya tepat ? Kemudian satu orang ke psikiater dan pergi ke psikiater lain bisa mendapatkan diagnosa yang berbeda-beda. Ini adalah subjektif.

Satu hal lagi yang lebih kontroversial. Orang-orang psikiater itu mempunyai satu buku yang disebut DSM IV (Diagnosis Statistical of Mental Health). Ini adalah esensi dari psikiatri. Buku ini berisi karakteristik2 penyakit jiwa dan bagaimana solusinya. Setiap orang dapat dikategorikan berdasarkan kategori-kategori ini seperti misalnya : Manic Depression, Schizophrenia, Phobia, Anxiety Disorder, dll. Kemudian yang menarik adalah bahwa dahulu homoseksual termasuk salah satu sakit jiwa tetapi kemudian dikeluarkan dari list DSM IV karena jaman sekarang sudah menerima homoseksual. Jadi DSM IV itu relatif tergantung pada budaya kontemporer untuk menentukan itu benar atau salah. Dan satu hal lagi yaitu bahwa ketika psikolog atau psikiater membaca DSM IV itu kita perlu melakukan penggalian (exegesis) dan penafsiran (hermeneutic). Kemudian mereka harus mencoba menafsirkan (hermeneutic) isi hati orang-orang yang dikonseling. Mereka harus menafsirkan dan menyesuaikan semua sharing ini dengan tafsiran DSM IV. Jadi ini subjektif. Apalagi DSM IV adalah bukan inerrant (tidak bersalah). DSM IV itu bukan science. Ini adalah otoritas dari para ahli dan mereka adalah orang yang berdosa.

Banyak teori psikologi tidak bisa dibuktikan secara empiris dan mereka bukan ilmu pengetahuan. Teori Chemical Imbalance yang sudah menyebar kepada masyararakt luas ternyata belum bisa dibuktikan secara ilmiah. Jadi apakah psikologi adalah ilmu pengetahuan ? Perlu kita renungkan bahwa psikologi adalah sebuah agama. Untuk lebih jelas marilah baca Psikologi sebagai Agama oleh Paul Vitz.

2. Apakah psikologi bisa dipercaya ?
Para ahli mengklaim bahwa psikologi dapat dipercaya dan psikologi bisa mengerti dan menyelesaikan masalah manusia. Apakah ini suatu kebenaran atau mitos ? Mari kita renungkan satu hal bahwa tempat di mana psikologi subur maka di tempat itu ada banyak masalah. Hasil studi selama 30 tahun menyatakan bahwa orang-orang yang sudah menerima 5 tahun terapi psikologi semasa kecil banyak yang hidupnya malahan lebih tidak beres dari orang-orang biasa. (Dari Why Christian Can’t trust Psychology). Satu hal ironis adalah bahwa dokter yang paling banyak gila adalah dokter jiwa. Ini satu hal praktis bahwa kalau anda stress coba baca buku Sigmund Freud dan saya percaya anda akan makin stress. Tetapi bagaimana jika anda baca Alkitab misalnya Mazmur 23 atau 119 ? Untuk melihat apakah psikologi bisa dipercaya marilah coba ikuti artikel ini dengan seksama.

3. Apakah label-label psikologi itu benar ?
Ada banyak label-label psikologi seperti Depression, ADHD, Schizophrenia, Anxiety Disorder, Phobia. Label-label ini menarik karena mempunyai kuasa dan mempunyai satu penafsiran. Kalau anda sudah dilabel maka anda sudah dikotakkan secara impersonal dan label ini akan melekat pada anda. Kemudian dengan adanya label ini maka orang yang dilabel bisa menjadikan label itu sebagai alasan untuk tingkah laku mereka yang buruk. Ini sebuah perlindungan. Kalau orang membunuh orang lain dan ternyata didiagnosa sakit jiwa maka dia dirawat dan bukan dipenjara dan dihukum. Dan di dalam label itu ada satu pengertian mengenai solusi akan label itu. Apakah label itu benar ? Apakah anak itu ADHD atau dia tidak disiplin dan tidak taat ? Apakah orang itu schizophrenia atau dia orang yang berdosa ?

Ketika seseorang sakit jiwanya dan ternyata diperiksa tidak ada problem biologis maka dia didiagnosa memiliki problem psikologis. Dia diberi makan obat. Masalahnya adalah apakah diagnosa itu akurat ? Kalau masalahnya adalah mental pikiran kenapa makan obat ? Bukankah mental itu berbeda dengan otak ? Apakah otak = pikiran ?
Anda dapat membaca buku apakah otak yang dipersalahkan oleh Edward Welch untuk memahami problema ini

4. Apakah psikologi dimotivasi oleh kasih ?
Saya dulu pernah berobat ke psikiater di Australia dan mensharingkan pergumulan mental saya. Sekali bayar adalah 125AUD$ setiap bulan dalam 50 menit. Mahal bukan ? Obatnya pun sekitar 80 AUD$ untuk 1 bulan. Cukup menyesakkan bukan ? Kemudian yah mari kita renungkan. Relasi saya dengan psikiater itu adalah relasi yang jauh. Saya tidak pernah bisa menjadi teman dia di luar praktik 50 menit. Kalau saya terlambat 10 menit maka waktu saya bertemu sisa 40 menit. Kemudian saya harus meninggalkan ruangan itu. Dan saya tidak pernah bisa bertemu dengan dia di luar waktu perjanjian. Kecuali kalau perlu telpon dan dia akan menasihatkan untuk menambah obat.

Mari kita renungkan. Apakah relasi teman itu harusnya jauh atau dekat ? Teman itu seharusnya bisa dihubungi dan bisa sharing ? Kemudian apakah dia peduli dengan hidup saya ? Apakah teman bisa dibatasi secara mekanik 50 menit ? Misalnya anda punya teman dan ketika mau sharing pergumulan anda maka dia bilang kita cuma ada waktu 50 menit yah setelah itu saya mau ngobrol sama orang lain. Apakah itu perhatian dan kasih ? Apakah teman dibatasi oleh jam mekanik ? Relasi di dalam ajaran Kristen adalah bersifat perjanjian yang berkomitmen (covenantal) dan bukan bersifat distant (jauh)

5. Apakah psikologi dapat mengubah kehidupan seseorang menjadi baik ?
Ketika kita mengkaji pertanyaan ini marilah kita renungkan pertanyaan yang lebih dalam. Sudah tentu bisa ada hasil dari psikologi terhadap kehidupan seseorang; baik hasil yang kelihatan secara fenomena bertambah baik atau semakin buruk. Untuk mengerti baik dan buruk tentu kita harus mengerti dari standar Tuhan Allah. Alkitab mengatakan bahwa tidak ada seorangpun yang baik, tidak ada seorangpun yang berbuat baik. Kebaikan yang kelihatan baik dari manusia di mata Allah adalah seperti kain kotor. Ini adalah standar ilahi. Dan karena itu marilah kita merenung sejenak apakah psikologi dapat mengubah kehidupan seseorang menjadi baik ? Apakah sesuatu yang dari manusia dapat mengubah natur manusia dan memperbaharui manusia menjadi serupa dengan Kristus ? Mampukah psikologi mengubah natur manusia yang jahat, mengubah hatinya, mentransformasi mereka sehingga mengasihi Tuhan dan sesama ? Ataukah kita memerlukan Tuhan Yesus Kristus dan pekerjaan Roh Kudus untuk mengubah natur manusia dan memperbaharui mereka di dalam kekudusan ?

6. Apakah psikologi itu adalah kebenaran dari wahyu umum ?
Seringkali ada klaim bahwa segala kebenaran adalah kebenaran Allah. Dasarnya adalah wahyu umum dan anugerah umum. Tuhan menyatakan kebenaranNya di dalam alam semesta. Bukankah ilmu kedokteran kita terima ? Bukankah ilmu matematika kita terima ? Kenapa ilmu psikologi kita tolak ? Nah, ini perdebatan yang sudah lebih dalam. Marilah kita merefleksi sebentar.

Ketika kita mengatakan segala kebenaran adalah kebenaran Allah, apakah maksudnya itu ? Biasanya diterjemahkan bahwa wahyu umum adalah kebenaran Allah. Itu tentu benar. Pertanyaannya apakah psikologi adalah wahyu umum ? Ini perlu kita renungkan lagi. Sebab satu hal bahwa wahyu umum tidak akan bertentangan dengan wahyu khusus. Tetapi teori psikologi, metode-metodenya dan nilai-nilainya serta sistemnya bertentangan dengan Alkitab. Psikologi adalah berpusat pada manusia. Psikologi sekular adalah anti Kekristenan. Mari kita merenungkan sesuatu.

Pertama. Waktu kita merenungkan segala kebenaran adalah kebenaran Allah maka timbul pertanyaan : apakah kebenaran itu? Tahu darimanakah teori psikologi itu satu kebenaran ? Apakah dasarnya untuk menentukan kebenaran itu ? Biasanya psikolog Kristen akan mengatakan bahwa dasarnya adalah Alkitab untuk menghakimi. Kalau kita melihat bahwa Alkitab adalah standar untuk menghakimi, apakah psikologi itu benar atau salah maka kita harus melihat secara kasus per kasus dan tidak bisa secara generalisasi. Dan saya mempunyai banyak sekali data yang menyatakan bahwa teori psikologi itu tidak benar dan banyak bertentangan dengan Alkitab. Kita tidak bisa mengambil kesimpulan universal tanpa melihat data partikular. Data-data partikular banyak menunjukkan bahwa psikologi adalah anti Kristen dan adalah kebohongan.

Kedua. Semboyan segala kebenaran adalah kebenaran Allah harus diimbangi dengan segala kebohongan adalah kebohongan iblis. Karena itu kita tidak bisa mengatakan begitu saja bahwa psikologi adalah kebenaran dan karena itu dari Tuhan. Bagaimana dengan banyaknya salah di dalam teori dan praktik mereka. Apakah kita bisa mengatakan itu dari Tuhan ?

Ketiga. Ketika kita mengatakan mengenai wahyu umum maka kita harus sadar bahwa wahyu umum berbeda dengan respon manusia berdosa terhadap wahyu umum. Respon manusia terhadap wahyu umum bukan wahyu umum.

Keempat. Andaikata kita bisa belajar kebenaran dari psikologi maka Orang-orang psikolog Kristen terkenal yang berusaha mengintegrasikan iman Kristen dan psikologipun menyadari bahwa hal ini sangat berbahaya dan perlu hati-hati. Bila para ahli dan pakar pun merasakan bahwa sulit sekali memilah hal ini maka pertanyaannya : apakah ini sangat berbahaya bagi kaum awam? Ibarat di dalam racun terdapat air jernih yang bisa diambil maka apakah tidak berbahaya mengambil komponen air jernih yang sudah tercemar dengan racun itu ? Kemudian ketika kita ingin memadukan obat (Injil) dengan air yang mau kita saring dari racun itu maka apakah itu akan membuat obat menjadi racun ?

Kelima. Kebenaran itu sifatnya kekal dan tidak berubah. Tetapi ilmu psikologi itu berubah-rubah dan tidak konsisten. Apakah ini bisa disebut kebenaran ?

7. Apakah orang Kristen membutuhkan psikologi untuk menyembuhkan masalah kejiwaan ?
Sudah hampir 2000 tahun banyak jiwa sudah diubahkan oleh Firman Tuhan ketika mereka bertemu dengan Kristus tanpa menggunakan psikoterapi. Tuhan Yesus sendiri tidak menggunakan psikoterapi. Tuhan Yesus menggunakan Perjanjian Lama dan Firman dari DiriNya sendiri sebagai Anak Allah dan Firman Allah. Dari Paulus (murder), Agustinus (sexual immorality), Martin Luther (guilt), orang kerasukan di Gerasa, perempuan Samaria, dan banyak orang yang diubahkan hidupnya tanpa psikoterapi. Kemudian akan timbul pertanyaan : apakah problema jaman sekarang lebih kompleks dari jaman dulu ? Misalnya jaman sekarang ada narkoba, pornografi dan dulu tidak ada. Sejak jaman dulu sampai jaman sekarang esensi problema manusia itu sama dan ada tercantum di dalam Alkitab. Intinya adalah dosa dan dimanifestasikan di dalam pembunuhan (misalnya Kain dan Habel), dosa kedagingan, dosa seksual ( Daud dan Betsyeba ), homoseksual (Sodom dan Gomora), penyembahan berhala, menyembah diri, dll. List dosa kedagingan di dalam Alkitab secara esensi adalah sama, baik dari dulu maupun sekarang. Dan jawaban dari Alkitab adalah : semua problema dosa hanya dapat diselesaikan melalui Tuhan Yesus Kristus.

8. Apakah fondasi-fondasi pemikiran psikoterapi itu benar ?
Marilah kita renungkan fondasi-fondasi dari psikoterapi dan mari kita renungkan apakah itu Alkitabiah atau melawan Alkitab.

Psikoterapi didasarkan pada banyak fondasi :
a. Manusia ditentukan oleh lingkungan
Manusia tingkah lakunya ditentukan oleh lingkungan. Masa lampau menentukan masa depan. Ada teori yang mengatakan bahwa umur 1-5 tahun adalah masa yang membentuk karakter seseorang ke depan. Secara logika umum kita bisa melihat sepertinya hal ini benar. Tetapi mari kita lihat esensinya. Di dalam sistem pandangan ini melihat bahwa manusia adalah korban dari lingkungan dan bukan agen moral yang bertanggung jawab. Sudah sering orang-orang psikologi menyalahkan lingkungan atas problema seseorang. Memang lingkungan dapat mempengaruhi tetapi tanggung jawab moral ada di dalam orang tersebut. Manusia adalah mahluk moral yang bisa memilih. Kita ada kebebasan untuk memilih di dalam kondisi lingkungan yang buruk.

b. Tingkah laku manusia ditentukan oleh kejiwaannya
Manusia tingkah lakunya ditentukan oleh alam bawah sadarnya (unconsiousness). Alam bawah sadar ini yang mempengaruhi seseorang bertingkah laku sekarang ini. Alam bawah sadar ini dibentuk sejak masa kecil dan mempengaruhi seseorang secara besar. Alkitab tidak mengatakan bahwa yang mempengaruhi tingkah laku seseorang adalah alam bawah sadar. Alkitab mengatakan bahwa hati manusia yang berdosa yang mempengaruhi seseorang. Bagi orang-orang psikologi maka manusia itu ditentukan oleh masa lampaunya secara determinis.

c. Membutuhkan pencerahan.
Karena manusia tingkah lakunya ditentukan oleh alam bawah sadar maka dia membutuhkan pencerahan untuk menyelesaikan masalahnya. Manusia perlu mengenali alam bawah sadarnya dan memperbaikinya. Ini adalah solusi terhadap masalah kejiwaan manusia.

d. Karena itu dia membutuhkan ahli terapi
Orang awam tidak mampu melihat alam bahwa sadar seseorang karena itu diperlukan ahli untuk membuka alam bawah sadar manusia. Ahli dipercaya karena mereka punya pengetahuan dan keterampilan khusus. Ahli-ahli ini adalah psikolog dan psikiater. Hamba Tuhan bukan posisi di dalam hal kejiwaan dan juga tidak ada peran dari Roh Kudus sebagai Counselor.

e. Tujuannya adalah supaya perasaan menjadi enak
Maka tujuan dari psikoterapi adalah kegembiraan dan menjauhkan penderitaan dan kesakitan. Tujuan dari psikoterapi adalah supaya tidak merasa bersalah, supaya tidak takut, dll. Tujuannya mengarah kepada manusia secara humanis dan hedonis.

Ketika kita merenungkan lebih jauh fondasi-fondasi ini maka kita harus menelitinya sampai ke akar filsafat di balik semua ini.

a. Antiteisme atau bisa disebut Monisme (menurut Dr. Peter Jones dari Westminster Theological Seminary )
Pengertian Monisme di sini adalah bahwa di dalam dunia psikologi maka wilayah Allah dibuang. Ini adalah wilayah dunia yang tidak ada Tuhan dan hanya ciptaan belaka. Ini adalah Monisme atau Antiteisme

b. Monistik materialistik
Pandangan psikoterapi yang Freudian melihat bahwa natur dari manusia materialistik. Manusia adalah kumpulan kimiawi dan biologis. Maka bila manusia ada problema di dalam mental maka mental sendiri adalah ada di dalam otak. Bila seseorang sakit mental maka beri saja dia obat untuk otaknya. Ini adalah melihat bahwa pikiran = otak. Tetapi orang Kristen mempunyai pandangan bahwa ada dualitas antara tubuh dan jiwa.

c. Pelagian.
Seperti bidat yang dilawan oleh Agustinus maka psikoterapi mempunyai kesamaan dengan bidat pelagian ini. Mereka berpandangan bahwa manusia itu naturnya baik dan bisa menyelesaikan masalah dengan kemampuannya sendiri. Di dalam teologi Kristen maka manusia memerlukan anugerah Tuhan dan pertolongan dari Roh Kudus.

d. Gnostik
Ajaran gnostik mengajarkan bahwa untuk diselamatkan maka manusia memerlukan pengetahuan rahasia yang dimiliki oleh orang elit. Ini ada kemiripan dengan psikoterapi dimana hanya orang ahli elit seperti psikolog dan psikiater yang mempunyai pengetahuan rahasia untuk mengerti alam bawah sadar dari klien. Orang awam tidak bisa di dalam hal ini.

e. Iman terhadap rasio manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa.
Ilmu psikologi didasarkan pada statistik dan juga pada alasan-alasan di balik fenomena tingkah laku manusia. Ini yang membuat mereka menarik. Mereka menjelaskan mengapa seseorang bisa depresi dengan teori chemical imbalance dan diagram. Tetapi sesungguhnya alasan-alasan ini banyak yang tidak dapat dibuktikan secara ilmiah. Data mengenai hal ini begitu banyak. Thomas Szazs menulis buku The Myth of Mental Illness dan The Myth of Psyhotherapy. Dia adalah orang sekular (bukan orang Kristen) yang membongkar mitos-mitos di dalam psikologi.
Sungguh sangat ironis dimana banyak orang sekular sudah tidak percaya dan skeptis terhadap psikologi tetapi banyak orang Kristen yang memeluk mereka.


Bersambung


Jeffrey Lim
1 September 2008
Institut Reformed



Bacaan :

Almy, Gary L. How Christian is Christian Counseling?: The Dangerous Secular Influences that Keep Us from Caring for Souls. Wheaton, IL: Crossway Books, 2000.
Bazler, Lisa & Ryan. Psychology Debunked : Revealing the overcoming Life. Florida: Creation House Press, 2002.
Bobgan, Martin and Deidre. The End of Christian Psychology. Santa Barbara, California : EastGate Publishers, 1997
Ed Bulkley. Why Christians Can’t Trust Psychology. Eugene, Oregon: Harvest House Publishers, 1993.
Ganz, Richard. Psychobabble : The Failure of Modern Psychology – and the Biblical Alternative. Wheaton, Illinois: Crossway Books, 1993.
Tyler, David & Kurt Grady. Deceptive Diagnosis : When Sin is called Sickness. Bemidji, Minnesota : Focus Publishing, Inc, 2006.
Vitz, Paul C. Psychology as Religion : The Cult of Self-Worship. Grands Rapids : William B. Eerdmans Publishing Co, 1977.
Welch. Edward T. Blame it on the brain. Philipsburg, NJ : Presbyterian & Reformed, 1998.
William Kirk Kilpatrick. Psychological Seduction: The Failure of Modern Psychology. Nashville: Thomas Nelson, 1983.

>Read more...

Transforming The Past

Tragedi Virginia Tech, sebuah berita menyedihkan yang “ berhasil “ menembus setiap lapisan media komunikasi dari internet, berita televisi, media cetak maupun media elektronik lainnya. Banyak pemirsa menyimak dengan penasaran akan kisah nyata yang tragis tersebut sehingga rating pemirsa maupun pembaca semakin tinggi. NBC menjadi salah satu sumber informasi paling penting dalam perjalanan kisah tragis ini karena anda dapat memperoleh biografi akurat, foto-foto maupun orasi dari Cho Seung Hui, seorang pemuda “ South Korean “ berumur 23 tahun.

Tidak sedikit, profesor maupun muda-mudi Virginia Tech berusaha mengingat kembali identitas Cho Seung Hui yang kesepian, aneh, sering diketawai oleh teman sekelasnya, menulis karya tulis yang menegangkan seperti mimpi buruk, ditertawakan oleh teman dekatnya saat ia mengatakan andai aku adalah school shooter. Hasil dari tragedi tragis tersebut menjatuhkan 2 korban di West Ambler Johnston Hall dan 30 korban di Norris Hall, akhirnya ia membunuh dirinya sendiri.

Melihat kisah hidup Cho Seung Hui, ia bergumul dalam depresi, ketakutan, kemiskinan, kematian, ketidakadilan, kesepian, kasih sayang maupun kehormatan. Setiap statement yang anda saksikan di NBC beralasan dengan realita yang ada. Ia dianggap aneh karena menentang gaya hidup “ party style “ maupun hidup hedonisme dari teman-temannya, pendiam yang misterius sehingga suka diisengin oleh teman-temannya “ Yo man, go back to China ! “.

Entah apa yang terlintas dalam benak Cho Seung Hui ? Melalui keterbatasan saya sebagai seorang awam, saya melihat apa yang dikerjakan oleh Cho Seung Hui adalah sebuah usaha transformasi budaya. Setiap kalimat yang terekam dalam video player-nya memuat nuansa ketidakpuasan gaya hidup yang dapat merusak generasi penerus (vocabulary dari Cho : This is for my children !). Dalam hal ini, saya respek terhadap pemuda yang tidak memikirkan kepentingan dirinya sendiri tetapi juga memikirkan untuk orang lain dan kepentingan generasi penerus. Hanya orang dewasa memiliki lapang dada untuk rela memeras pikiran peroleh solusi terbaik bagi generasi berikutnya. Sayang, tindakan transformasi Cho Seung Hui bukanlah cara seorang konservatif seperti Presiden Bush, cara seorang pacifism seperti (Alm) Martin Luther King tetapi ia memakai cara seorang “ cowboy “.

Setelah mengikuti setiap berita-berita yang melelahkan mata fisik, mata pikiran dan mata hati saya … saya berdoa kepada Tuhan, bagaimana mata iman saya membaca berita-berita tersebut ?

Pertama, saya menyadari betapa rentannya manusia sebagai seorang “ Sinner “. Tidak peduli apakah manusia itu sehat mental atau cacat mental, mereka hanyalah manusia yang telah jatuh ke dalam dosa sehingga kecenderungan berbuat dosa tetaplah ada dalam diri mereka. Inilah kecacatan semua manusia yaitu DOSA. Dosalah yang telah menkontaminasi iman, pikiran, hati, aplikasi hidup manusia sehingga dosa menghancurkan konsistensi seluruh totalitas kehidupan manusia menjadi kacau dan liar. Seorang boleh mengatakan dirinya orang Kristen tetapi bukan berarti ia memiliki iman Kristen, cara pandang Kristen, hati seorang Kristen, aplikasi hidup orang Kristen. Inilah realita paradigma manusia yang telah jatuh ke dalam dosa. Pertanyaan yang timbul yaitu : apakah manusia menyadari keberdosaan dirinya ?

Kedua, Respon manusia terhadap kesadaran dirinya berdosa bisa dua macam ; satu macam lebih bersifat pesimistik – tenggelam di dalam “ depresi “ maupun lebih bersifat optimistik – bangun dari tidur dan berjuang untuk menikmati hari yang baru di dalam Tuhan Yesus Kristus. Respon manusia yang pesimis menyebabkan depresi yang laten, tidak segera tampak atau disadari. Penderita depresi dapat nampak ceria walau sebenarnya ia sedih. Prof Daniel Goleman, Psikolog dari Harvard University, USA dalam bukunya “ Emotional Intelligence “ mengatakan bahwa di zaman modern ini kemungkinan orang depresi lebih banyak karena berbagai tekanan hidup yang selalu muncul dalam setiap berbagai konteks dan situasi. Manusia yang depresi biasanya memfokuskan dirinya kepada kepesimisan hidup yang ia alami, sulit konsentrasi (painful thinking), konsep diri yang negatif karena kesalahan masa lalu, rasa kuatir yang berlebihan, emosional yang labil, delusional thinking, psychotic depression dan sebagainya. Seorang murid SMU bunuh diri karena merasa berdosa kepada pacar yang dihamilinya dan mati. Merasa berdosa kepada keluarga pacarnya, merasa berdosa kepada keluarganya sendiri. Lalu tulis surat minta maaf lalu gantung diri, tiada jalan keluar kecuali bunuh diri, itulah yang dilakukan oleh manusia berdosa. Respon manusia yang optimis meskipun tetap mengalami depresi tetapi mengalami pertobatan di dalam karya keselamatan dan penebusan melalui satu-satunya juruselamat dunia yaitu Tuhan Yesus Kristus yang memberikan kekuatan untuk tekun belajar menjalani “ sinkronisasi “ hidup seperti Kristus sampai kedatangan Kristus kedua kalinya.

Ketiga, sejak manusia jatuh ke dalam dosa maka manusia kehilangan Kemuliaan Allah (TOTAL DEPRAVITY). Disini manusia telah jatuh ke dalam cara pandang yang “ complicated “ tapi kelihatannya manusia menyukai keputusannya untuk jatuh ke dalam dosa. Dilematisnya, manusia menganggap keputusannya yang “tidak beretika“ itu sebagai keputusan yang benar. Itulah yang dilakukan oleh Cho Seung Hui. Ia ambil keputusan untuk menjadi “ School Shooter “ demi generasi penerusnya yang inspirasinya mengutip Yesus Kristus yang telah mati untuk menyelamatkan mereka yang tidak terlindungi. Apa maksudnya disini ? Cho Seung Hui, seorang Kristen yang seharusnya bisa membaca “ qualitative difference “ antara Yesus Kristus dan dirinya. Di sini konsep messiah telah mengalami “ ketidakadilan “ karena apa yang dikerjakan oleh Yesus adalah divine, sedangkan Cho Seung Hui lebih cocok dinobatkan sebagai “ cowboy “. Inilah realita cara pandang manusia berdosa yang belum mengalami sinkronisasi dengan cara pandang Allah (God’s perspective). Hanya melalui Firman Tuhan (God Himself Speaking) kita dapat dibawa untuk menyelami cara pandang Allah yang beresiko tinggi untuk mengalami “ suffering, injustice maupun violence “ tetapi cara pandang Allah pasti memberikan kekuatan untuk tekun menjalani kehidupan yang penuh penderitaan, ketidakadilan maupun kejahatan sampai waktu-Nya tiba bagaimana Tuhan dimuliakan dalam kehidupan yang “ complicated “ ini. Seringkali kita mengikut Tuhan hanya dengan keuntungan profit yang disediakanNya tetapi kita tidak mau mengalami kerugian dalam proses pengikutan kita kepada Tuhan. Saat kita tidak menikmati profit dari pengikutan kita kepada Tuhan akhirnya kita berjiwa pemberontak dan selalu memiliki keraguan radikal yang secara terus menerus mempertanyakan segala yang kita yakini, untuk sebagian orang hal itu mengakibatkan kekecewaan, realisme berlebihan yang semakin memberatkan langkah kita, membebani bahu kita dan akhirnya membuat kita berhenti dengan penuh kepahitan. Sekali lagi, semua karena dosa. Masalah dunia bukan hanya disebabkan oleh sistem sosial, keluarga, pemerintahan yang salah melainkan kelemahan radikal yang ada di dalam diri kita sendiri, sifat jahat hati kita.

Keempat, Seringkali kita terlalu cepat mengambil keputusan menjadi “school shouter“ dari pemikiran filosofis kita yang sempit untuk melakukan sebuah transformasi budaya dan kita kurang beriman di dalam menunggu waktu Tuhan untuk kita belajar melakukan apa yang seharusnya kita kerjakan untuk mendoakan dan mengampuni mereka yang telah bersalah kepada kita. Sebuah buku “ Transforming Society - by Melba Padilla Maggay “ mengajak saya sebagai pembaca untuk menempatkan diri sebagai Yehezkiel di padang belantara (Yehezkiel 27:1-14). Di hadapan padang belantara ini Yehezkiel diuji dengan pertanyaan “ Dapatkah tulang-tulang ini dihidupkan kembali ? “. Karena tidak mampu membayangkan bagaimana hal itu bisa terjadi, Yehezkiel menggumam “ Ya Tuhan Allah, Engkau yang tahu “. Yehezkiel tahu bahwa Allah tahu apa jawaban atas pertanyaan itu dan dapat melakukannya jika Ia mau. Tetapi pemandangan di hadapannya sedemikian mencengangkannya sehingga membangkitkan keraguannya untuk mengusahakan sebuah jawaban. Bagaimana perasaan Yehezkiel saat menutup tumpukan tulang-tulang kering itu, sama seperti keraguan kita. Tuhan memerintahkan Yehezkiel untuk bernubuat kepada tulang-tulang tersebut dan tulang-tulang tersebut bergerak dan hidup. Kemudian Tuhan menjelaskan kepada Yehezkiel bahwa tulang-tulang itu adalah seluruh kaum Israel. Saat itu mereka yang hidup dalam pembuangan di Babel sudah tidak punya pengharapan untuk dapat pulang kembali ke tanah mereka. Keputusasaan mereka sama dengan yang dirasakan oleh orang masa kini, tenggelam dalam depresi tanpa harapan. “ Tulang-tulang kami menjadi kering dan pengharapan kami sudah hilang “. Saya belajar menyelami orang-orang yang mengusahakan transformasi budaya dan masyarakat dengan kesadaran bahwa keputusasaan terjadi pada tempat yang hanya satu-satunya Tuhan yang dapat masuk yaitu Yesus Kristus.

Fakta bahwa Kristus sendiri dibunuh, mengingatkan kita bahwa kekuatan kejahatan sangatlah besar sehingga kita mengalami keputusasaan sampai tulang-tulang kita menjadi kering dan usaha terbaik kitapun gagal. Walau demikian, fakta lain bahwa Kristus sudah bangkit, mengingatkan kita bahwa pada pusat kekuasaan di dunia ini ada satu kekuatan yang mendobrak kubur dan menyatakan hidup “ Lihatlah, Aku akan membuka kubur-kuburmu dan membangkitkan engkau dari kuburmu, Oh umatKu dan Aku akan membawa kamu pulang ke tanah kaum Israel … dan Aku akan menaruh RohKu dalam dirimu, dan engkau akan hidup, dan Aku akan menempatkan engkau di tanahmu sendiri. Maka engkau akan tahu bahwa Aku, Tuhanmu telah mengatakannya dan melakukannya, begitulah firman Tuhan. “ Membaca makalah tersebut saya merasa tertegur sedalam-dalamnya, Jika kita berada di dalam kebimbangan dan ditanya “ Dapatkah tulang-tulang ini dihidupkan kembali ? “. Jawaban kita adalah Ya, seperti Yehezkiel, sebab Kristus sudah mati, Kristus sudah bangkit dan Kristus akan datang kembali. Inilah Janji Tuhan yang PASTI TERJADI !

Dalam Kasih-Nya
Ev. Daniel Santoso
Taipei, Taiwan, R.O.C
>Read more...

Di perempatan jalan ! Aku bingung…Kasihan !

Pada jaman yg sudah semakin membingungkan, yang seharusnya manusia lebih harus peka & menyadari perubahan tersebut. Tetapi realitanya manusialah yang membuat kebingungan ini semakin membingungkan. Apalagi dengan adanya hati & hasrat ingin mengemas, memadukan semua konsep , ajaran dan berbagai suasana dlm satu wadah. Tanpa disadari ini sudah termasuk gejala menodai identitas diri dan orang lain. Karena setiap identitas itu menentukan jati diri seseorg, ini penting dan sangat bernilai adanya. Kalau ditelusuri , dipelajari dan dianalisa dgn kecermatan, kesadaran dan pikiran yang tajam & bertanggungjawab ; maka kita harus sadar bahwa dlm DUNIA INI TDK ADA YG SAMA ! Apalagi sejak dunia diciptakan MANUSIA SDH MEMILIKI IDENTITAS YG BERBEDA.

Secara logika : Saat kita melakukan aktifitas hidup kita di dunia ini sehari-hari, identitas itu secara tidak langsungnya sering dipertanyakan & ini menentukan jati diri kita. Misalnya ke dokter , jenis kelamin itu perlu & penting, meskipun yg ke dokter itu adalah sama-sama manusia ( dan yang jelas bukan ke dokter hewan ). Maka sekali lagi identitas itu yang ditanyakan dan mohon diperjelas ! Bukannya dikaburkan ! Jangan sampai diri kita dikaburkan oleh orang-orang yang suka mempermainkan kata–kata yang tidak jelas identitasnya. Yang mungkin saja kalau dipertanyakan identitas dirinya, dirinya juga tdk jelas & sadar identitas dirinya. Kasihan sekali ! Padahal manusia diciptakan ada laki – laki dan perempuan. Bukankah hal ini suatu kejelasan, bukannya suatu pengkaburan.

Sama halnya dgn suatu gereja atau persekutuan yg akan dibentuk
Ada org yg suka mengatakan bahwa gereja / persekutuan mereka “ kembali kepada Alkitab ”…Hati – hati, ini kemasan racun rasa coklat ! Kelihatannya manis tapi bisa membinasakan jiwa ! Kelihatannya benar tapi itu sesat dan tdk bertanggungjawab.

Namanya gereja / persekutuan org Kristen, YA SUDAH PASTI KEMBALI KEPADA ALKITAB , apa yang terjadi kalau mereka berkumpul , beribadah tanpa kembali kepada Alkitab ! Bukannya ini suatu KEANEHAN ! dan suatu KEBODOHAN !

Mengapa kita harus teliti sesuatu sebelum kita menikmatinya dan berbagian dengan mereka yang tidak ada kejelasan dalam identitas diri mereka ? Pertama, sebenarnya orang-orang begini kasihan sekali ! karena mereka dalam kebingungan , berdiri di perempatan jalan tanpa arah & tujuan yang jelas. Seperti Tom Hank yg berlari terus tanpa berhenti & tidak ada arahnya ( Forest Gump ). Karena mereka bisa dikatakan dan digolongkan sebagai golongan yang tidak mau belajar dengan dalam & teliti, tetapi sebaliknya berkeinginan besar sekali untuk membuat gereja / persekutuan yg bisa dinikmati oleh semua lapisan aliran dan golongan. Padahal mereka sudah lupa , kebahayaan ini sudah mereka miliki & akan hadapi. Permasalahannya , “ Apakah mereka dapat memberikan penjelasan yang akurat dengan eksistensi perbedaan identitas ini ? Yang sebenarnya sudah real, nyata, sejak nenek moyang kita ?? Kok begitu mudah ! Ibaratnya diri kita ini dianggap anak kecil, yang bisa diberi permen, mainan…untuk kemudian disuruh kumpul dan mengakui kebersamaan identitas ! Wah…gawat ini ! Apalagi dengan adanya aturan yang sering terjadi yaitu para anggota , peserta atau jemaat tidak boleh bertanya mengenai perbedaan ini ? Sekali lagi kasihan mereka !

Kedua, mereka mengatakan berdasarkan Alkitab.
Ini lagi suatu penyakit yang sdh eksis sejak dulunya. Dlm sejarah Tuhan mewahyukan kepada para rasul & nabi dan kemudian adanya catatan dari bapa – bapa gereja, para reformator dll. Apakah yg sudah Tuhan kerjakan dalam sejarah dunia & gereja ini dianggap tidak bermakna ?

Dengan gaya yang arogannya , mereka berteriak “ Alkitabiah ”, apakah ini suatu konsep yg benar? Secara logikanya setiap orang dapat menyuarakan dan memutlakkan bahwa pendapatnya itu yang benar , karena alkitabiah ( berdasarkan alkitab ); tetapi yang perlu dipertanyakan , itukan anggapan / pendapat dari diri seseorang / golongan saja. Itu merupakan unsur subyektifitas pribadinya sendiri. Cara inilah yang sering disodorkan & ditawarkan oleh orang-orang yang berkeinginan untuk membentuk persekutuan / gereja yg Oikumene. Yang tanpa dirasakan mereka menawarkan kepada orang awam tentang asas kesatuan utk semua aliran , tetapi tanpa disadari oleh kaum awam , mereka akan dibawa ke dalam aliran hasil cetusan orang-orang yang suka mengatakan Alkitabiah, tidak membedakan aliran dan golongan gereja ; asal dengan catatan para kaum awam mau dibawa ke dalam isme “ pokoknya sama & satu , jangan dibeda-bedakan". Mana mungkin hal ini bisa terjadi, bukankah hal ini suatu kesia-siaan aja dimana berlari – berlari terus…yang pada akhirnya tidak ada arah & tujuan , tidak ada fondasi yang memberikan pegangan kepada umatnya. Itulah kebingungan seseorang yang berdiri di perempatan jalan…KASIHAN.

Pada waktu orang oikumene atau yang sering didengar bahwa persekutuan / gereja interdenominasi ; sebetulnya mereka sudah mencetuskan diri mereka sebagai satu aliran dari banyaknya aliran yang sudah ada. Jangan mudah tertipu dengan gaya ditambah kemasan iklan mereka, apalagi yang sering dibumbui dengan acara sharing , renungan dari Alkitab ; dimana pemimpinnya masih perlu dipertanyakan “ sudahkah membayar harga dengan sekolah teologia dan belajar lebih baik ?”. Karena kalau sharing yang selalu disertakan ayat – ayat alkitab ( istilah yg lebih keren “ Asal Comot ”) maka ini sgt berbahaya. Inilah permainan dari org – org yg suka menyamakan segala konsep & aliran dengan memakai tameng Alkitabiah ( berdasarkan Alkitab ).

Untuk mengantisipasi gejala & gangguan akibat serangan virus yg suka memakai kedok kekristenan& tawaran surga yaitu semua kristen & gereja sama …yang penting bersatu …itulah golongan oikumene ; maka sebagai org kristen harus sadar utk lebih belajar teologia dan realita sejarah gereja yg benar. Dari sana kita semakin terbuka utk melihat realita perbedaan. Kalau memang gereja / persekutuan di tengah dunia ini dapat disamakan & disatukan, dunia sdh damai. Coba renungkan & lihat realitanya ! Sekali lagi jangan terjebak dgn tawaran mereka, dimana mereka yg suka berimajinasi, berkhayal, mimpi yg indah ; tapi SAYANGNYA itu hanya angan-angan semu belaka. Seperti diri kita lagi bermain di Disney Land , bukankah hal itu sangat menyedihkan dan membuang segala usaha & konsentrasi diri kita selama ini.

Apa gunanya bersatu secara fenomenanya saja yaitu bisa berkumpul bersama, tetapi banyak sekali pertanyaan dlm hati & perbedaan konsep yg ingin ditanyakan, tetapi karena satu aturan dari golongan mereka ( tidak boleh menyinggung, tdk boleh tanya ) …Dgn berat hati , mulut para jemaat ( kaum awam ) sekali lagi hrs dibungkam dan secara tidak langsung hrs menerima ketidak jelasan konsep Oikumene. Ibaratnya : Apa gunanya suami istri tidur satu ranjang, namun mimpi & keinginan mereka berbeda ( tidak sama ). Yang harus menjalankan waktu tidurnya dengan segala kepahitan, kehancuran dan tetesan air mata yang tidak ada maknanya.
Sadarlah dan lebih waspada terhadap tawaran mereka.

Taipei , 13 Nov 2006

Nico Ong
>Read more...

Mengkritisi buku Purpose Driven Life

Pendahuluan
Dunia rohani kadang suka mengikuti dunia sekuler, bukan mempengaruhinya. Di dalam dunia sekuler sekarang ini sering terdapat metode-metode belajar yang kelihatannya menarik dan instan yang membuat orang ingin cepat-cepat belajar. Misalnya 30 hari belajar Programming C++, Belajar Java Programming dalam 24 jam, Belajar ____ dalam waktu 40 hari, dll. Semua ini menawarkan metode belajar yang instan dan berkala dimana sebenarnya kalau kita selidiki bahwa bagaimana setiap orang belajar itu tidak bisa dimetodekan seperti ini. Ada orang yang cepat belajar dan ada yang lambat belajar. Kadang belajar itu perlu refleksi dan perenungan dan kadang perlu mengulang materi yang lama. Proses belajar tidak bisa digeneralisasikan secara metode yang pasti dalam periode tertentu.
Kalau di dunia sekuler ada buku-buku yang metodenya bodoh seperti ini, di dunia rohani ada buku yang menggunakan metode yang sama dan buku ini sangat terkenal. Buku ini adalah buku Purpose Driven Life (PDL) ditulis oleh Rick Warren, sudah mencapai 20 juta copy banyaknya, mengalahkan gurunya yaitu Robert Schuller dan hendak menyaingi kakek guru-nya yaitu Norman Vincent Peale dengan bukunya The Power of Positive Thinking. Kalau saja anda tahu siapa itu Robert Schuller dan Norman Vincent Peale, anda pasti lebih hati-hati dengan muridnya ini.

Program 40 hari dalam buku PDL yang hendak menjadi metode transformasi rohani bagi orang percaya ini yang katanya berkhasiat mujarab ini mesti kita teliti baik-baik baik secara isi dan pemahaman teologianya. Apakah Alkitabiah ? Apakah bisa dipertanggungjawabkan secara doktrin ?
Buku yang lebih cocok kita kategorikan buku pengembangan diri ( self-help ) dari pada buku rohani ini didasarkan pada pemikiran pragmatis dan praktis yang mementingkan metode dan aplikasi praktis tanpa mau pusing-pusing belajar sesuatu yang dalam dan mendasar. Yang penting adalah aplikasinya. Memang buku ini menawarkan sesuatu minuman orange juice segar ditengah-tengah jaman penuh kejenuhan oleh banyaknya ajaran dan teori yang tidak dapat bekerja.
Buku PDL sudah banyak tersebar di seluruh dunia dan banyak digunakan di gereja-gereja dan juga gereja di Indonesia. Tetapi sesungguhnya dalam buku ini ada banyak hal yang tidak Alkitabiah yang perlu kita kritisi. Adapun di Indonesia tidak banyak yang mengkritisi buku ini secara tulisan. Maka tujuan tulisan ini adalah untuk boleh menjadi berkat buat mengkritisi ajaran Warren yang berbahaya bagi kesehatan gereja.

Analisa kritis mengenai buku PDL dimulai dari doktrin Alkitab.
Doktrin Alkitab
Segala doktrin dan pengajaran harus dibangun dari Alkitab. Prinsip atau doktrin yang dibangun dari penafsiran yang salah akan mengakibatkan doktrin yang buruk atau menyimpang. Prinsip penafsiran Alkitab yang benar adalah Alkitab menafsirkan Alkitab. Dan prinsip ini harus dilihat dari konteks penulisannya dan juga maksud dari pengarang. Tidak bisa asal main comot ayat dan mengarang suatu pengertian doktrin.

Tetapi di dalam buku PDL, penafsirannya adalah tidak melihat konteksnya dan bisa dibilang asal comot di luar konteks. Dan yang lebih parah adalah Rick Warren menggunakan 15 terjemahan Alkitab yang berbeda-beda dan banyak sekali penggunaan teks Alkitab yang tidak tepat secara terjemahan maupun secara penggunaan. Bahkan Bob DeWaay mengatakan bahwa dia menebak 50% dari kutipan Alkitab di dalam PDL adalah menyeleweng secara total[1].

Di dalam buku PDL banyak dikatakan “The Bible says”. Bolehkah kita berkata bahwa Alkitab mengatakan sesuatu padahal itu bukan apa yang Alkitab katakan ? Ini adalah salah dan lebih tepat berdosa ! Seseorang tidak dapat mengatakan “Alkitab mengatakan” ketika Alkitab tidak mengatakan. Alkitab yang diparafrasekan yang digunakan Rick Warren bahkan banyak yang bukan paraphrase yang sah. Parafrase adalah mencoba mengatakan hal yang sama dengan kata-kata yang berbeda. Namun mengatakan sesuatu yang berbeda total dengan maksud mula-mula si pengarang, apalagi dalam konteks Alkitab, adalah dilarang[2] ( Ul 4:2, Wahyu 22:18, 19 ).

Mari kita ambil contoh di mana kutipan Alkitab salah digunakan :
Di halaman 19, Warren mengutip Matius 16:25 dari The Message yang memparafrasekan “Self-help is no help at all. Self sacrifice is the way, my way, to finding yourself, your true self”. Warren berargumentasi bahwa untuk sukses di dalam hidup, kita memerlukan lebih dari sekedar nasihat self-help[3]. Tetapi terjemahan literal dari Alkitab ini bukan berbicara mengenai nasihat self-help melainkan lebih mengenai natur esensi dari Injil yaitu mengenai kehidupan dan kematian. Menemukan your “true-self”adalah istilah psikologi dan tidak ditemukan di dalam Alkitab. Ayat ini tidak berbicara mengenai mengorbankan diri tetapi berbicara mengenai mati terhadap diri. Versi Warren mengenai ayat ini adalah menyarankan dengan mengorbankan diri kita menemukan diri kita yang sesungguhnya. Semua ajaran agama yang salah mengajarkan mengorbankan diri dan menemukan diri yang sesungguhnya adalah ajaran kebohongan dari New Age. Kebenaran Injil yang sesungguhnya adalah kita harus mati terhadap diri melalui salib dan meletakkan pengharapan kita di dalam Kristus dengan iman di dalam karyaNya yang sempurna.

Di dalam Bab 7, Rick Warren mengutip ayat “The LORD has made everything for his own purpose” (Prov 16:4). Ini bukan ayat yang lengkap[4]. Tetapi di dalam terjemahan yang lengkap adalah "The LORD has made everything for its own purpose, even the wicked for punishment." (NLT) Proverbs 16:4 (NASB) "The LORD has made everything for its own purpose, Even the wicked for the day of evil.". Mengapa mengutip ayat tidak lengkap ? Bukankah Amsal itu harus dikutip dengan lengkap satu ayatnya supaya pengertian pembaca lebih utuh?

Di dalam tempat lain, Warren mengaplikasikan bagian Perjanjian Lama secara langsung kepada orang percaya di perjanjian Baru tanpa penjelasan dari konteks mula-mula dan arti yang dimaksudkan. Sebagai contoh : Warren mengutip Yeremia 29:11 ketika dia berkata : “If you have felt hopeless hold on ! Wonderful changes are going to happen in your life as you begin to live on purpose. God says ‘I know what I am planning for you.... I have good plans for you, not plans to hurt you. I will give you a hope and a good future”. Di dalam kenyataan nubuat ini sesungguhnya diberikan kepada orang Israel di Perjanjian Lama pada masa pembuangan di Babilonia[5].

Ada beberapa ayat lainnya yang diambil di luar konteks dan pengertian[6] :
  • (Mt 6:24 NLT) "No one can serve two masters"
    Ayat ini sesungguhnya berbicara mengenai materialisme (melayani Allah vs melayani uang) tetapi Warren mengatakan ayat ini mengenai kita tidak dapat menyenangkan setiap orang (Bab 3 )
  • (Rom 12:21) "overcome evil with good"
    Ayat ini berbicara mengenai baik kepada musuh. Konteksnya adalam Rom 12:14-21. Tetapi Warren mengatakan bahwa ayat ini mengenai mengalahkan pencobaan dengan berpikir mengenai sesuatu yang baik (Bab 27)
  • (Ex 31:3-5 NIV) "skill, ability, and knowledge in all kinds of crafts to make artistic designs ... and to engage in all kinds of craftsmanship."
    Warren menghilangkan bagian pertama dari kutipan ini dan dia dapat menggunakannya di bagian mengenai kemampuan alamiah. Warren mengatakan bahwa ini adalah ayat untuk menggunakan kemampuan kita yang alamiah (Bab 31). Tetapi sesungguhnya ayat 3 adalah "I have filled him with the Spirit of God, with skill, ability and knowledge in all kinds of crafts." Ini sesungguhnya adalah kemampuan supranatural ( dengan memenuhi seseorang dengan Roh Kudus ) untuk menghasilkan karya untuk kemah suci.

Yang lebih harus kita kritisi adalah premis dasar dari buku PDL dimana “diperlukan waktu 40 hari untuk menemukan arti hidup” adalah interpretasi yang salah dari Alkitab. Warren menekankan bahwa strategi 40 hari adalah yang terbaik dan cara Alkitabiah untuk menanamkan perubahan kerohanian yang signifikan. Dia mengatakan “Alkitab jelas bahwa Allah menggunakan 40 hari sebagai waktu yang signifikan untuk kerohanian dan untuk mempersiapkan seseorang untuk tujuanNya. Contohnya adalah Nuh (dan air bah), Musa (dan gunung Sinai), kedua belas pengintai (yang mengintai Kanaan), Daud (dan Goliat), Elia (di padang gurun), Kota Niniwe (setelah Yunus berkotbah kepada mereka), mruid-murid (setelah kebangkitan Kristus). Konklusi Warren adalah : yang Allah inginkan di dalam metode perubahan hidup umatNya adalah program 40 hari. Dan Warren menambahkan bahwa dalam 40 hari kemudian akan mengubah hidupmu[7].

Dengan mengklaim ini bahwa 40 hari adalah apa yang Allah inginkan di dalam transformasi rohani, Warren dibingungkan antara deksripsi dengan perintah. Tidak pernah ada orang percaya yang diperintahkan untuk mengikuti program 40 hari. Dan juga penafsiran seperti ini adalah alegoris yang merupakan metode penafsiran yang tidak sah. Kemudian lebih jelas bahwa angka 40 hari kelihatan mempunyai beberapa signifikansi di dalam Alkitab tetapi tidak pernah dipresentasikan sebagai model dimana harus kita ikuti.

Pertimbangkan beberapa contoh dari list Warren. Air bah adalah bukan waktu Nuh menemukan tujuan hidupnya tetapi merupakan penghakiman di bumi. Nuh sudah mengerti tujuan ini 120 tahun sebelumnya ketika Allah memerintahkan dia membangun bahtera. 40 hari Musa habiskan di gunung Sinai bukan waktu Musa menemukan tujuannya tetapi Musa sudah diberikan tujuannya ketika diperintahkan Allah di semak belukar. Kedua belas pengintai juga adalah contoh yang buruk terutama 10 diantara mereka tidak percaya dan tidak berubah. Daud bahkan tidak mendengar mengenai Goliat setelah 40 hari sudah berakhir. Pertempurannya dengan Goliat tidak terjadi 40 hari[8].

Kita dapat membandingkan dengan beberapa contoh lain dimana Warren tidak menggunakan. Abraham belajar sabar menunggu keturunannya selama bertahun-tahun, bukan 40 hari. Yakub mengenal kerendahan hati dan terdorong untuk percaya Allah di dalam satu malam ketika bergumul dengan malaikat dan ini diawali dengan 14 tahun kerja bagi Laban. Yusuf dipenjarakan 2 tahun sebelum diangkat ke posis yang tinggi di Mesir. Rasul Paulus mengalami transformasi hidup di dalam waktu beberapa menit di dalam jalan menuju Damarkus.

Jadi lebih tepat kadang Allah menggunakan 40 hari tetapi tidak setiap kali. Dan ini jangan diabsolutkan menjadi metode. Bukankah setiap orang berbeda ? Dan bukankah Allah bekerja secara berbeda kepada setiap orang ? Bukankah dengan mempatok 40 hari sebenarnya sedang membuat generalisasi karya Allah dan juga generalisasi manusia ?

Kesimpulan mengenai analisa dari doktrin Alkitab
Mencomot ayat sembarangan di luar konteks adalah salah satu keahlian Rick Warren. Tetapi dengan demikian maka teologi yang dibangunnya adalah teologi yang buruk. Bila fondasi dan dasar Alkitabiahnya sudah tidak beres maka bangunan di atasnya akan tidak beres. Dan teologi yang salah menghasilkan aplikasi yang salah. Ajaran Warren sendiri berbahaya karena hendak menggantikan Alkitab dengan metode dari bukunya.

Pada bagian yang selanjutnya, mari kita lihat teologi yang dibangun di atas dasar dan premis yang salah. Setelah doktrin Alkitab, kita akan melihat doktrin Allah, doktrin manusia dan dosa, doktrin Kristus dan doktrin keselamatan dari buku PDL.

Doktrin Allah
Berpusat pada Allah atau pada diri ?
Di dalam judul bab pertama dikatakan bahwa “It all starts with God[9]”. “It’s not about you”. Kelihatannya judul dan pesan yang dimaksud adalah berpusat kepada Allah dan mempunyai teologi yang reformed yaitu God-centered. Tetapi sesungguhnya pesan yang dikandung di dalam buku Rick Warren adalah Christian-Humanism atau Humanisme yang menggunakan kedok kekristenan.

Apakah benar buku ini bukan mengenai “you” tetapi mengenai Allah ? Tetapi keseluruhan buku terasa bahwa itu semua mengenai “kamu” dan kalau kita membaca buku ini serasa membaca buku literatur pengembangan atau menolong diri (self-help)[10]. Warren banyak mengatakan mengenai “you” sepanjang buku ini. Perhatikan hal ini dari hari kedelapan :
“You were planned for God’s pleasure. The moment you were born into the world God was there as an unseen witness, smiling at your birth. He wanted you alive, and your arrival gate gave him great pleasure. God did not need to create you, but He chose to create you for his own enjoyment…. Bringing enjoyment to God, living for His pleasure is the purpose of your life. When you fully understand this truth, you will never again have a problem with feeling insignificant. It proves your worth. If you are that important to God, and He considers you valuable enough to keep with him for eternity, what greater significance could you have”[11]

Statement bahwa ini bukan mengenai “you” adalah tidak tulus. Gayanya, penggunaan kata, fokus kepada manusia, terjemahan Alkitab yang terdistorsi dan banyak statemen menunjukkan bahwa buku ini mengenai kamu.

Mendegradasikan natur Allah[12]
Natur Allah di dalam Alkitab adalah Kudus. Alkitab menyatakan : “Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaanNya !”. Rick Warren gagal untuk menghormati natur Allah yang kudus. Di dalam babnya yang berjudul “Becoming Best Friends with God”, Allah dilukiskan seperti Dia ada di dalam kebutuhan. “Tuhan Maha kuasa menginginkan untuk menjadi temanmu”. Tetapi kasih Allah di dalam Yesus Kristus adalah pengorbanan secara total dan memberi. Ini tidak menekankan kekurangan pada diri Allah. Fakta bahwa Allah mendemonstrasikan kasihNya kepada orang berdosa yang tidak layak adalah bukan mengimplikasikan kebutuhan Allah untuk memuaskan sesuatu yang kurang pada diriNya.

Rick Warren membangun kesalahan serius ini dengan cara terjemahan yang salah dari Kel 34:14 “He is a God who is passionate about his relationship with you”[13]. Ayat ini seharusnya dibaca “For thou shalt worship no other god. For the LORD, whose name is Jealous, is a jealous God”. Keinginan atau kecemburuan Allah adalah melawan mereka yang menyembah ilah lain. Tetapi bagian pertama dari ayat ini “for thou shalt worship no other god” dihilangkan dalam buku Warren.

Kasih dan kebenaran
Sifat Allah adalah Kasih dan Adil adanya. Allah tidak mengasihi terlepas dari kebenaran. Tetapi di dalam pengajaran Warren banyak ditekankan Allah yang kasih.
“You were created as special object of God’s love ! God made you so he could love you. This is a truth to build your life on. The Bible tells us, “God is love” (1 John 4:8). It doesn’t say God has love. He is love ! Love is the essence of God’s character.“[14]
Doktrin Allah mengalami kekurangan di dalam pengajaran Rick Warren[15]. Buku PDL lebih menfokuskan pada sisi kasih Allah, kebaikan dan pemeliharaan tetapi mengurangi atributnya yang ‘kurang bersahabat’ seperti kekudusan, keadilan, murka. Jadi dalam kata lain maka pemaparan natur Allah adlaah tidak sempurna. Dengan tidak seimbang memaparkan mengenai atribut Allah maka sepenuhnya melukiskan siapa Allah. Dan pandangan Allah yang benar adalah fondasi untuk menemukan tujuan di dalam hidup.

Pengajaran Warren bahwa Allah mempunyai kasih yang menyelamatkan semua orang adalah mendegradasikan natur Allah. Mengutip The Message, Warren mengajarkan bahwa “God’s motive for creating was his love. The Bible says, ‘Long before he laid down earth’s foundations, he had us in mind, had settled on us as the focus of his love’” ( p 24 ). Teks yang korup ini menyingkirkan fokus teks Alkitab bahwa pemilihan Allah adalah di dalam Kristus dan bukan bagi orang yang tidak bertobat. Tetapi kasih yang menyelamatkan menurut Warren yang diaplikasikan secara universal menurunkan natur Allah yang kudus dan adil.

Pandangan Allah yang terdistorsi[16]
Warren di dalam bahan video presentasi PDL membuat beberapa penekanan yang harus dipertanyakan. Pernyataan yang merupakan serangan langsung kepada konsep Allah adalah Warren mengatakan bahwa “Jika orang Kristen gagal di dalam tugas mereka untuk menginjili, akan ada orang-orang yang tidak di surga padahal seharusnya di sana”. Untuk mengklaim bahwa beberapa orang akan di neraka karena kegagalan orang lain untuk menginjili adalah sangat mengejutkan. Artinya adalah Tuhan tidak mampu menyelamatkan beberapa orang yang seharusnya di surga adalah penghujatan. Implikasi dari pernyataan ini adalah pandangan Allah yang terdistorsi. Pandangan ini tidak sesuai dengan Alkitab, salah dan berbahaya.

Mengapa ?
Sebab jika Warren benar, maka Allah tidak mahakuasa di dalam alam semesta. Dia tidak mengontrol segala sesuatu. Kristus menjadi figur yang lemah, jauh dari panglima keselamatan yang maha kuasa dimana orang percaya bisa bersandar secara penuh. Jika kegagalan manusia menghancurkan rencana Allah akan keselamatan, apakah Dia dapat dipercaya ?
Jika penebusan dari orang berdosa yang hilang bergantung kepada manusia lain, bagaimana orang Kristen dapat merasa aman ? Bagaimana kita dapat percaya kepada Allah untuk pertolongan ilahi di dalam ujian dan pencobaan di dalam kehidupan sehari-hari jika usaha Dia yang berbaik dapat gagal karena kegagalan mahluk yang Dia ingin tolong ? Konsep Allah dari Warren memberikan kita secara sadar atau tidak sadar bukan memperkuat iman tetapi melemahkannya. Ini mempengaruhi bagaimana kita berelasi dengan Allah. Setiap pernyataan yang melemahkan karakter Allah, melemahkan kepercayaan bagi mereka yang percaya kepada Dia.

Sesungguhnya Allah kita adalah Allah yang berdaulat di dalam alam semesta dan dapat diandalkan untuk membawa jiwa yang dimana AnakNya mati untuk mereka dengan selamat pulang ke surga.

Doktrin Manusia dan Dosa
Tesis dari buku PDL ada di halaman ke 136.
“I hope you will read that book, too, because it will help you understand how God designed this church specially to help you fulfill the five purposes he has for your life. He created the church to meet your five deepest needs: a purpose to live for, peope to live wtih, principles to live by, a profesion to live out, and power to live on”[17].

Membaca dari 5 kebutuhan ini, Warren salah di dalam list dia mengenai kebutuhan yang terdalam. Dengan otoritas dari Alkitab, kebutuhan yang pertama dan terutama bagi manusia adalah benar secara sempurna di hadapan Allah yang kudus. Hanya kebenaran Kristus saja yang Allah terima sebagai pendamaian atas dosa manusia dan natur berdosa. Ini adalah kebutuhan dasar dari manusia yang secara konstan ditunjukkan di dalam Alkitab tetapi tidak disebutkan oleh Warren di dalam list dia mengenai kebutuhan yang terdalam. Warren mengajarkan bahwa Allah menciptakan gereja untuk memenuhi 5 kebutuhan yang dasar seperti ajaran Roma Katolik yang mengatakan bahwa gereja adalah ibu dari semua orang percaya.[18]

Harga diri ( self-worth ) : peninggian manusia
Dasar program dari Rick Warren adalah janji hasil yang instan di dalam meningkatkan imaginasi seseorang mengenai harga dirinya. Apa yang diabaikan secara penuh adalah fakta bahwa secara natur manusia adalah mahluk yang jatuh dan mati di dalam dosa dan pengharapannya diluar dirinya yaitu hanya di dalam Kristus saja.

Walaupun Warren menegaskan bahwa buku ini bukan mengenai kamu ( p17 ), tetapi fokus utamanya adalah membangun harga diri seseorang.
“The way you see your life shapes your life. How you define life determine your destiny” ( p 41 )
“You are a bundle of incredible abilities, an amazing creation of God. Part of church’s responsibility is to identify and release your abilities for serving God” ( p 242 )
“The best use of your life is to serve God out of your shape. To do this you must discover your shape, learn to accept and enjoy it, and then develop it to its fullest potential” ( p 249 )
Ajaran untuk memperkembangkan potensi diri adalah seperti ajaran Hindu dan Carl Jung dan juga Islam serta Budhisme[19]. Semua ini menekankan kebaikan dasar dari manusia. Warren menyimpulkan dasar fondasi ini di dalam kalimat :
“If you are thast important to God, and he considers you valuable enough to keep with him for eternity, what greater significance could you have?” ( p 63 )
Tetapi Alkitab mengajarkan bahwa manusia sudah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah ( Rm 3:23 ). Alkitab juga mengajarkan bahwa hati manusia itu begitu licik ( Yer 17:9 ). Alkitab tidak melihat kebaikan manusia seperti ajaran Rick Warren. Manusia itu berdosa.
Warren melangkah terlalu jauh dengan mendistorsi teks Alkitab untuk menopang konsep dia mengenai “true self” ( diri yang sesungguhnya ). Dia mengatakan
“The Bible says ‘Self-help is no help at all. Self-sacrifice is the way, my way, to finding yourself, your true self’”( p 19 )
Kalimat parafrase dari Matius 16:25 ini tidak mengajarkan mengenai sesuatu mengenai “true self” atau harga diri. Warren menggunakan parafrase yang palsu untuk berfantasi bahwa Allah sudah berbicara mengenai menemukan diri yaitu diri akan yang sesungguhnya.
Warren mengajarkan pemuliaan manusia di dalam berbagai cara :
“You only bring him ( God ) enjoyment by being you. Anytime you reject any part yourself, you are rejecting God’s wisdom and sovereignty in creating you” ( p 75 )
“When you are sleeping, God gazes at you with love, because you were his ideas. He loves you as if you were the only person on earth” ( p 75 ).

Doktrin Kristus
Tetapi Warren tidak berhenti dengan peninggian manusia. Tingkat kemuliaan dari manusia ditemukan di dalam kalimat yang membuat harga pribadi pembaca adalah tujuan Kristus mati kayu salib. Dengan menekankan harga diri maka bukan saja menyelewengkan Injil tetapi juga melecehkan Tuhan sendiri[20].

Warren mengatakan :
“If you want to know how much you matter to God, look at Christ with his arms outstretched on the cross, saying “I love you this much! I’d rather die than live without you” (p 79 ).
Kalimat yang merupakan bagian dari lyric ‘backstreet boys’ ini adalah sebuah penghujatan ketika diletakkan di mulut Tuhan oleh Warren. Kristus Yesus tidak mempunyai kasih yang bergantung kepada manusia. Jika Dia mempunyai ketergantungan seperti ini, maka Dia bukan Allah. Perkataan Warren bahwa Kristus lebih baik mati daripada hidup tanpanya adalah membalikkan pengertian Alkitab bahwa Allah melakukannya semua untuk kemuliaanNya. Warren sudah membalikkan semua dari Allah kepada manusia. Kristus sedang dilecehkan.

Doktrin Keselamatan
Manusia berdosa adalah rusak di dalam seluruh bagian naturnya. Orang reformed mengatakan bahwa ini adalah kerusakan total (total depravity). Manusia tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri. Manusia tidak menginginkan kebajikan, tidak mengerti kebajikan, dan tidak dapat melakukan kebajikan[21].

Mencoba untuk meninggikan manusia berdosa seperti apa yang Warren lakukan adalah sia-sia sebab tidak ada keselamatan moral di dalam harga diri manusia. Injil yang dipresentasikan di dalam buku PDL adalah user-friendly gospel. Rick Warren mempresentasikan versi Injilnya. Dia mengatakan di dalam perjalanan 40 hari :”If you learn to love and trust God’s Son, Jesus, you will be invited to spend the rest of eternity with him. On the other hand, If you reject His love, forgiveness, and salvation, you will spend eternity apart from God”

Perhatikan kalimat presentasi Injil dari Rick Warren :
“First, believe. Believe God loves you and made you for his purposes. Believe you’re not an accident. Believe you were made to last forever. Believe God has chosen you to have a relationship with Jesus, who died on the cross for you. Believe no matter what you’ve done, God wants to forgive you”

Second, receive. Receive Jesus into your life as your Lord and Savior. Receive his forgiveness for your sins. Receive his Spirit, who will give you the power to fulfill your life purpose. The Bible says, ‘Whoever accepts and trusts the Son gets in on everything, life complete and forever!’ [John 3:36a] Wherever you are reading this, I invite you to bow down your head and quietly whisper the prayer that will change your eternity:’Jesus, I believe in you and I receive you’ Go ahead.

If you sincerely meant that prayer, congratulations ! Welcome to the family of God ! You are now ready to discover and start living God’s purpose for your life” (p 58-59)
Kelihatannya presentasi Injil ini sangat manis sekali dan undangan Warren mencakup beberapa aspek penting di dalam Injil. Tetapi pada saat yang sama banyak elemen esensial yang hilang. Misalnya : Pertobatan dan penyangkalan diri jelas-jelas tidak ada. Penjelasan mengenai akibat dosa dan kenapa Yesus mati di kayu salib tidak ada[22]. Warren sendiri tidak menyinggung pertobatan sampai pada bab “How We Grow” (p 182).
Warren adalah tipe guru yang mengajarkan “easy believism” (mudah percaya saja) untuk memasuki kehidupan Kristen. Ini bukan jalan yang sempit yang Yesus sebutkan di dalam Matius 7. Injil yang user-friendly memberikan orang jaminan yang salah. Inilah bahayanya. John MacArthur mengatakan : “Orang menyelesaikan dengan mudah melalui pintu yang lebar, nyaman dan mengundang dengan segala kopernya, kebutuhan diri sendiri dan harga dirinya dan mereka ingin untuk pemuasan dan pemenuhan diri. Dan yang paling mengerikan adalah mereka menyangka mereka pergi ke surga”.

Warren mengabaikan banyak pengertian seperti penebusan dosa, doktrin pembenaran, murka Allah terhadap dosa, penjelasan yang jelas mengenai pribadi dan karya Kristus, kebutuhan untuk pertobatan sebagai bagian dari Injil. Dia menggantikan semua ini dengan perjalanan pribadi untuk menemukan tujuan sendiri. Tidak heran bahwa jutaan orang memasuki pintu lebar yang dia tawarkan[23].

Catatan kaki :
[1] The Gospel : A Method or A Message “How the purpose driven Life obscrure the Gospel” by Bob DeWaay
[2] Ibid.
[3] Fool’s Gold by John MacArthur – A Sense of Purpose : Evaluating the Claims of The Purpose Driven Life by Nathan Busenitz
[4] http://www.biblebb.com/files/tonyqa/tc03-148.htm
[5] John MacArthur, Fool's Gold
[6] http://www.purposeverses.com/
[7] John MacArthur, Fool’s Gold.
[8] Ibid.
[9] The Purpose Driven Life by Rick Warren – pg 17
[10] Bob DeWaay, The Gospel : A Method or A Message
[11] Rick Warren, The Purpose Driven Life – pg 63
[12] The Purpose Driven Life : Demeaning the very nature of God by Richard Bennett
[13] Rick Warren, The Purpose Driven Life – pg 86
[14] The Purpose Driven Life by Rick Warren – pg 24
[15] John MacArthur, Fool’s Gold.
[16] Rick Warren’s Purpose-Driven Life: A Seriously Flawed View of God by Michael Stohlmeyer
[17] Rick Warren, The Purpose Driven Life – pg 136
[18] The Adulation of Man in The Purpose Driven Life by Richard Bennett
[19] Ibid
[20] Ibid.
[21] 5 Pokok Calvinisme by Edwin H Palmer
[22] John MacArthur, Fool’s Gold
[23] Bob DeWaay, The Gospel : A Method or A Message “How the purpose driven Life obscrure the Gospel”.
(Jl)

>Read more...

Doa mengenai orang sakit di dalam Yakobus 5:12-20

Di dalam Yakobus 5:12-20 dikatakan bahwa jika seseorang berada dalam masalah, marilah dia berdoa. Tetapi bila seseorang sukacita, marilah dia memuji Tuhan. Dan bila ada masalah di dalam penyakit haruslah memanggil penatua dari gereja untuk berdoa untuknya dan mengurapi dengan minyak. Hasilnya adalah orang sakit itu akan disembuhkan dan dosanya akan diampuni (ay 15). Dan kemudian setiap jemaat harus saling mengaku dosa (ay 16). Yakobus 5 ini sudah sering menjadi isu mengenai penyembuhan. Sebagian gereja mengambil beberapa sikap mengenai hal itu dan menekankan bagian-bagian yang dituliskan.

Jika anda memanggil penatua dan berdoa buat anda dan ternyata anda tidak sembuh maka yang bermasalah itu anda, penatuanya atau minyaknya atau kesetiaan Tuhan? Kita seringkali salah mengerti teks perikop ini. Kita harus mempelajarinya dengan sungguh-sungguh di dalam konteks kitab Yakobus ini. Kitab Yakobus ini adalah kitab yang bukan terpisah tetapi satu kitab yang koheren dengan koneksi dari tema-tema. Karena itu kita harus melihat dari konteks seluruh kitab. Seringkali di pasal 5, kita sering menafsirnya di luar konteks dan membaca seperti sebuah instruksi singkat pada dirinya sendiri. Tetapi kita harus melihat kitab Yakobus bukan seperti itu melainkan seluruh surat menyatu bersama.

Surat Yakobus dimulai dan ditutup dengan doa yaitu sebuah respon yang tepat terhadap pencobaan. Kita sering melihat bahwa doa sering tidak efektif ketika kita mempunyai hari yang duniawi dan ada di dalam kebiasaan menggunakan lidah kita dengan salah seperti mengutuk bukan memuji. Di dalam Yakobus 5:12, instruksi Yakobus melawan penggunaan dari lidah diteruskan : "Jangan bersumpah".

Kembali kepada Yakobus 5:12-20, ada dua pandangan interpretasi yang sangat mempengaruhi. Pandangan Pertama adalah sakramennya orang Roma Katolik yaitu sakramen pengurapan. Seseorang di atas ranjang yang menuju kepada kematian dikunjungi imam dan mengucapkan pengakuan. Imam mengurapi dia dengan minyak dan berdoa dengan kepercayaan bahwa orang tersebut akan diampuni dosanya dan akan pergi ke surga.

Pandangan kedua adalah pandangan orang Kharismatik yang menggunakan bagian ini sebagai dasar dari pelayanan penyembuhan. Di dalam pelayanan penyembuhan, seseorang yang dianggap mempunyai karunia menyembuhkan meletakkan tangannya kepada orang sakit itu dan mempercayai seorang sakit akan disembuhkan secara fisik menurut janji dari ayat ini.

Kedua pandangan ini mempunyai masalah mendasar. Pertama, untuk pembaca Katolik, Yakobus mengatakan bahwa orang sakit akan menjadi baik. Tetapi di dalam sakramen pengurapan diasumsikan pribadi yang sakit tidak akan sembuh (Di dalam sejarah, sakramen ini digunakan di dalam ucapara penyembuhan untuk orang sakit, tetapi pada abad pertengahan berkembang menjadi pelayanan untuk orang sakit yang hendak meninggal). Juga di bagian ayat itu diperintahkan untuk mengaku dosa terhadap sesama, bukan kepada imam.

Kedua, untuk pembaca Kharismatik juga mempunyai beberapa masalah. Yakobus tidak berbicara mengenai pelayanan penyembuhan seperti yang dijelaskan di dalam Yak 5:14-16 tetapi lebih kelihatan sebagai pertemuan pribadi, bukan kebaktian. Juga orang sakit ini harus memanggil penatua, pemimpin dan pengajar gereja, bukan seseorang dengan karunia penyembuhan.

Sebuah pertanyaan harus dilontarkan mengenai relasi antara dosa dan penyembuhan di dalam pembacaan Kharismatik. Jika orang tersebut tidak sembuh, apakah itu berarti dia masih berdosa ?

Ayat ini sepertinya memperlihatkan kita sebuah janji yang luar biasa. Orang sakit akan dibuat sembuh. Dia akan dibangkitkan dan diampuni. Contoh dari Elia adalah sangat indah, menunjukkan kuasa besar di dalam doa. Elia berdoa dan kekeringan datang; dia berdoa dan hujan datang. Kita harus berdoa dengan berharap jika kita mengambil ayat ini secara serius.

Pertanyannya : Mengapa sangat sedikit penyembuhan yang terjadi hari ini ? Mengapa sesungguhnya Yakobus sendiri mati ? Mengapa Timotius ada sakit di dalam tubuhnya dan Paulus menasihatkan dia untuk minum sedikit anggur ? Mengapa Elisa mati sakit ? Jika janji ini benar, mengapa orang Kristen banyak yang mati ?

Yakobus menjanjikan juga kita mengikuti petunjuk ini, doa adalah sungguh berkuasa dan kita akan disembuhkan. Apa yang sesungguhnya ayat ini katakan ? Kita mempunyai beberapa respon pada poin ini :
(1). Kita bisa kehilangan kepercayaan di dalam kuasa doa dan kemudian mengubah janji ini – kamu tidak dapat sungguh-sungguh berdoa untuk penyembuhan, kamu hanya dapat berdoa untuk penerimaan sakit
(2). Kita dibawa kepada dunia fantasi dan mengklaim bahwa penyembuhan sudah terjadi walaupun sesungguhnya tidak. Banyak orang sudah melakukan ini dan membayar harganya. Masalah tidak diselesaikan hanya dengan menutup mata kita kepada realitas.
(3). Kita dapat menambah kualifikasi. Kamu harus berdoa dengan iman dan tanpa iman itu tidak bekerja.

Tetapi semua ini tidak sungguh-sungguh memuaskan. Coba apabila anda sendiri yang mengalami sakit maka anda lebih mengertinya. Jika bagian ini sungguh-sungguh menjanjikan penyembuhan, maka berlangsungnya penyakit dari orang Kristen menimbulkan masalah di dalam kepercayaan kita kepada Alkitab.

Mari kita lihat bagian Yakobus dengan lebih dalam
Ada bagian yang aneh dan tidak biasa di dalam pengkalimatan !
Perhatian kalimat dosa !

Bandingkan kedua terjemahan Alkitab.

NIV :
V 15. And the prayer offered in faith will make the sick person well; the Lord will raise him up. If he has sinned, he will be forgiven
V 16. Therefore confess your sins to each other and pray for each other so that you may be healed. The prayer of a righteous man is powerful and effective

KJV:
V15. And the prayer of faith shall save the sick, and the Lord shall raise him up; and if he have committed sins, they shall be forgiven him
V 16. Confess [your] faults one to another, and pray one for another, that ye may be healed. The effectual fervent prayer of a righteous man availeth much

Terjemahan KJV sesungguhnya merefleksikan Bahasa Yunani lebih dekat. Apa yang teks itu sungguh-sungguh katakan adalah : “orang sakit akan diselamatkan” (shall save the sick) bukan “orang sakit akan disembuhkan” (shall make the sick person well).

Bagaimanapun juga kita menemukan kondisi aneh yaitu orang sakit akan diselamatkan (ay.15) dan orang berdosa akan disembuhkan (ay.16). Kenapa bukan sebaliknya ?

Marilah kita lihat bagian ini dalam relevansinya dengan Elia. Dengan doa Elia, kekeringan datang kepada Israel. Dan dengan doa dia lagi, hujan datang sebagai tanda Israel telah dipulihkan relasinya dengan Tuhan Allah. Pelayanan Elia adalah tepat persis seperti yang pasal 19 dan 20 katakan – untuk membawa kembali bangsa yang berdosa, untuk menutupi dosa yang besar, karena itu untuk menyelamatkan orang. (Bdk 1 Raj 17 s/d 2 Raj 2 )

Marilah kita berpikir lebih dalam ! Bagaimana kita menyelamatkan orang ? Yaitu membawa orang itu kepada Tuhan dan doa dapat membawa hal itu. Apakah relasi sakit dan dosa ?

Ada beberapa bagian dari Alkitab
Yoh 9:1-3 -> Sakit bukan karena dosa tetapi supaya pekerjaan Allah dinyatakan
1 Kor 11:29-32 -> Sakit karena tidak bersikap benar dalam perjamuan kudus.

Walaupun kita semua sakit secara umum sebagai akibat dosa Adam, tetapi juga ada kasus dimana Allah mengirimkan sakit yang spesifik kepada jemaat untuk dosa anggota jemaat seperti 1 Kor 11.

Ini menolong kita membaca Yakobus 5:12-20 dengan pengertian yang lain. Jemaat berdosa dan di dalam konteks kitab Yakobus adalah mereka berdosa dengan menghakimi satu sama lain dan bersungut-sungut. Ini sangat alamiah bagi Yakobus untuk menanyakan apakah ada seseorang yang sakit ? Jika ada, mereka harus mengakuinya kepada penatua karena sakit seperti itu adalah hasil dari dosa. Inilah sebabnya mengapa orang sakit diinstruksikan untuk memanggil penatua dan bukan DOKTER. Kita bisa mendapatkan penyembuhan melalui doa dan juga penghakiman Tuhan ada pada kita atas dosa maka kita harus berdoa.

Kemudian ada pertanyaan : Bagaimana kita tahu sakit kita adalah hasil dari dosa dan bukan sakit biasa di dunia ? Ini sebuah pertanyaan baik. Orang yang saleh yang sakit akan bertanya terlebih dahulu apakah ini sebuah penghakiman bagi saya ? Sakit seharusnya menjadi sebuah penyebab untuk menyelidiki hati nurani. Apakah kita berdosa ? Selidikilah hatimu ! Ketika anda menemukan dosa dan terutama dosa yang belum bertobat maka anda harus berdoa untuk pengampunan. Jika sakit adalah karena penghukuman atas dosa, Yakobus menjanjikan kita bahwa anda akan disembuhkan (setelah mengaku dosa).

Apakah anda memperhatikan satu keanehan di dalam pasal 15 yaitu Yakobus berkata “If he has sinned” ?. Tentu semua orang berdosa. Tetapi Yakobus berbicara mengenai dosa tertentu yang menjadi penyebab penyakit.

Tetapi sakit anda belum tentu hasil dosa tertentu. Di dalam kasus ini anda tidak akan disembuhkan. Tetapi apapun dosa di dalam hati nurani anda akan diampuni melalui pengakuan dan dosa. Anda mungkin masih tetap sakit, tetapi sudah menghadapi dosa yang lebih penting daripada sakit.

Jeffrey Lim
limpingen@gmail.com
Guang Zhou 26 Maret 2007

Biblography
Interactive Bible Studies -> James by Philip D. Jensen & K.R Birkett
Publisher Matthias Media

>Read more...